Mendengarkan suara-suara buruh migran yang tak lagi terpendam

Menjadi TKW bukanlah berarti mereka tidak bisa sambil menuntut ilmu, Tidak
banyak yang kita ketahui tentang kehidupan para pekerja Indonesia di
luar negeri. Terkadang justru pemberitaan yang berbau miring dan negatif
tentang pahlawan devisa kita yang malah sering terdengar.
Mengenal sebuah komunitas seperti memberikan warna dan
gambaran baru terhadap wajah buruh migran Indonesia yang bekerja di luar
Tanah Air.
Voices of Singapore’s Invisible Hands berdiri pada Agustus 2016 dan masih berusia belum genap satu bulan.
Komunitas ini didirikan oleh mahasiswa Universitas
Indonesia (UI) Yoga Lordason dan kerabatnya, Shin Wei, mahasiswa
University of Queensland, Australia. Keduanya bertujuan untuk memberikan
sarana kepenulisan dan edukasi bahasa Inggris kepada buruh-buruh migran
internasional yang menetap di Singapura.
“Fokus Voice of Singapore’s Invisible Hands ke dalam
bidang kepenulisan prosa, dilatarbelakangi oleh keterbatasan para buruh
migran untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang mereka lalui,
perasaan mereka, bentuk perlakuan yang mereka harapkan, pengorbanan, dan
kerja keras mereka untuk para keluarga yang ditinggalkan di negeri
asal,” kata Yoga kepada Rappler.
“Oleh karena itu, sastra atau prosa dapat menjadi sarana
yang tepat untuk mereka bercerita, baik ke masyarakat di Singapura atau
masyarakat luas, layaknya manusia pada umumnya. Dan hal itu berbeda jika
disampaikan oleh bacaan jurnalistik atau bahasa-bahasa lainnya,” tutur
Yoga, yang dibesarkan oleh ibu yang berprofesi sebagai tenaga kerja
Indonesia selama 19 tahun di Singapura.
Yoga, yang kini sedang menempuh pendidikan non-sarjana di
National University of Singapore (NUS) dan baru memasuki minggu
keempatnya di Singapura, sempat melakukan pertukaran pelajar di
University of Michigan, Towson University di Baltimore, dan Lehigh
University di Bethlehem, Pennsylvania.
Ia juga merupakan co-founder dari Rumah Edukasi Ciliwung
di Jakarta dan guru relawan dari English Without Borders, sebuah
program pelayanan komunitas dari Departemen Bahasa Inggris Universitas
Indonesia.
Seorang
buruh migran asal Indonesia menulis puisi di sebuah taman di Singapura.
Foto oleh Voices of Singapore’s Invisible Hands
“Tantangan dalam mengelola komunitas ini adalah kesibukan
masing-masing dari para anggota. Beberapa dari kami bekerja dan beberapa
lainnya adalah mahasiswa S3, jadi sulit mencari waktu untuk bertemu.
Namun, tidak ada kesulitan untuk mencari ‘siswa-siswa’ untuk komunitas
ini karena ada banyak sekali buruh migran di Singapura,” ujarnya.
“Kami mengajarkan mereka bagaimana menulis prosa dalam
bahasa Inggris, sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka.
Beberapa dari mereka memiliki kecakapan bahasa Inggris yang sudah baik
untuk tahap berbincang-bincang, tapi kosakata dan pengetahuan tentang
tatanan bahasa saja yang masih terbatas,” kata Yoga.
Saat ini Voice of Singapore’s Invisible Hands memiliki 10
orang murid yang terdiri dari buruh migran asal Indonesia. Untuk ke
depannya, Voice of Singapore’s Invisible Hands berharap dapat mencakup
komunitas buruh migran dari negara lain.
Setiap minggu, Voice of Singapore’s Invisible Hands mengadakan workshop atau lokakarya di Toa Payoh dan kelas online. Selain kelas prosa, diadakan juga kelas bahasa Inggris.
Menurut penuturan Yoga, tidak banyak yang tahu bahwa para
tenaga kerja asal Indonesia di Singapura ada yang tengah mengenyam
pendidikan S1 sambil bekerja, dan ada pula yang sudah menuliskan buku.
Salah satunya adalah Meikhan Sri Bandar yang akrab disapa
Menik. Ia adalah seorang perempuan asal Jawa Tengah yang sudah bekerja
di Singapura semenjak 2003.
Saat ini Menik bekerja di Bukit Timah. Perempuan yang
mengidolakan Rita Sugiarto dan Elvy Sukaesih ini, sudah menelurkan buku
kumpulan puisi dan buku cerita.
Novelnya yang berjudul Benang-benang Kehidupan terbit pada 2013. Ia juga pernah menulis novelet dengan temannya, Anung D’Lista, yang bertajuk Delista dan Meikhan pada tahun yang sama.
Selain itu, Menik menulis sebuah puisi yang bertajuk My Dream dalam Bahasa Inggris yang sudah diterbitkan dalam antologi I am A Domestic Worker pada 2014.
My Dream oleh Meikhan Sri Bandar
I stared at the blue sky
The glittering light lent a soothing sensation
That forced me
To dream
To rise
To grasp
To own it
but I was here on the ground,
standing fixed and still
I closed my eyes,
And my mind spread its wings
It flew and soared up into the sky
I opened my eyes,
I was still on the ground
But I won’t give up
My Dream is my Spirit
My Spirit is my Faith
And my Faith is my Life
“Inspirasi saya [untuk puisi ini] adalah kecintaan saya
dengan warna biru dan indahnya warna cerah di langit sana yang sering
membuat saya tersenyum dan mengingat betapa agung ciptaan-Nya. Maka,
terbesitlah khayalan dan mimpi,” kata Menik kepada Rappler.
“Dan dari mimpi itu, saya berusaha mewujudkan. Namun saya
mesti tahu diri dan apa saja yang saya pantas mimpikan, maka semua itu
saya pasrahkan kepada kuasa Tuhan,” begitu kata Menik menjelaskan makna
puisi My Dream, sebuah karya prosa yang ia tuangkan langsung dalam bahasa Inggris.
Tidak hanya menulis, Menik juga bermusik. Lagu karangannya yang berjudul Engkaulah Semangat Hidupku
masuk dalam kumpulan lagu pada album perdana MSB (Membangkitkan
Semangat BeKerja/BerKarya) pada 2016. Ia juga pernah satu panggung
dengan pedangdut kondang seperti Itje Trisnawati dan Vetty Vera.
Masih banyak harapan Voice of Singapore’s Invisible Hands,
beberapa di antaranya adalah menjalin kerjasama dengan
pemerintah-pemerintah terkait dan mengajak mereka untuk menyokong
kantong-kantong kreatif untuk buruh migran secara menyeluruh, selain itu
juga mencetak karya-karya publikasi dari buruh migran dan
mendistribusikannya di toko-toko buku di Singapura.
“Kami juga mengharapkan hak-hak para buruh migran agar
sepenuhnya terpenuhi, dan agar mereka dapat lebih dihormati di mata
masyarakat Singapura atau masyarakat secara luas,” kata Yoga.
Sumber: Rappler
