191 ORANG LAKI-PEREMPUAN TANPA DOKUMEN DIGEREBEK DI MEKKAH
Sebanyak 191 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan tanpa
dokumen diamankan oleh pasukan petugas kemanan Kota Suci Mekkah
Al-Mukarramah, demikian portal berita Sabq memberitakan Rabu Kamis
(7/9).
Brigjen Mohammad Omari, Kepala Kepolisian Kota Suci Mekkah, telah
memerintahkan Kepala Divisi Sergap, Kol. Fawaz Sahfi, untuk terus
mengawasi para pelanggar dan siapa saja yang mencoba tinggal di
tempat-tempat atau bangunan-bangunan yang menyalahi aturan.Alhasil, Rabu kemarin 191 orang tanpa didentitas ditangkap dalam sebuah razia terhadap sejumlah bangunan. Mereka menghidangkan makanan dengan cara yang jauh dari standar kesehatan.
Dalam operasi penggerebekan tersebut, pasukan keamanan menutup semua jendela untuk mencegah mereka melarikan. Mereka semua kini telah dimasukkan ke tahanan imigrasi (Tarhil)Shumaisi.
Belakangan diketahui 191 orang yang ditangkap tersebut semuanya berwarga negara Indonesia yang telah beberapa hari bahkan di antaranya beberapa bulan telah berada di Mekkah.
Dari berita acara pemeriksaan (BAP) oleh petugas KJRI Jeddah terungkap, sebagian besar yang ditangkap tersebut adalah WNI yang tidak memiliki dokumen resmi alias ilegal yang datang dari Jeddah dan berniat untuk melaksanakan ibadah haji.
Sepasang suami-istri asal Jawa Timur yang ikut diamankan dalam razia itu mengaku membayar 75 juta rupiah. Uang tersebut disetor kepada seseorang yang mengurus keberangkatan mereka ke Mekkah Arab Saudi dengan visa kunjungan bisnis untuk menunaikan ibadah haji. Di paspor tertera, mereka berangkat ke Arab Saudi tanggal 27 Januari 2016 dengan rute Jakarta-Malaysia-Jeddah.
Dari hasil pemeriksaan petugas KJRI Jeddah 191 WNI yang ditangkap tersebut ditampung di sebuah rumah berlantai tiga di daerah syisyah, dekat Supermarket Bindawud. Per orang dikenai seribu riyal dan dibayarkan kepada seorang perempuan berinisial R selaku penanggung jawab atau dikalangan mukimin WNI di Arab Saudi poluler dengan sebutan “mas’ul.” Harga tersebut sudah harga paket, terdiri dari biaya penginapan, makan, transportasi dan pelayanan Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina).
Belakangan tersiar kabar bahwa sang mas’ul tersebut meninggal secara mendadak karena serangan jantung pada saat operasi penggerebekan berlangsung.