Pidato Eni Lestari Andayani Adi Ketua International Migrant’s Alliance (IMA) Pada Sesi Pembukaan KTT PBB

Inilah isi serta video pidato Eni Lestari Andayani Adi Pada Sesi Pembukaan KTT PBB tentang Perpindahan Massal Pengungsi dan Migran pada 19 September 2016, di Kantor Pusat PBB, New York. Eni merupakan Ketua International Migrant’s Alliance (IMA)
Berikut isi pidatonya.
Yang mulia, Sekretaris Jenderal PBB, Ketua Sidang Umum, dan Tamu dari berbagai negeri.
Saya merasa terhormat berdiri di hadapan Anda hari ini atas nama 244
juta migran di seluruh dunia. Setelah bertahun-tahun tidak punya suara
dan tak dipandang, kami - para migran – akhirnya diterima disini untuk
berbicara mewakili diri kami.
Kami adalah orang-orang yang telah ditolak oleh masa depan, hak dan
mimpi yang pernah kami bayangkan. Ketika masih kecil, saya bermimpi
mendapatkan pendidikan lebih tinggi dan bermanfaat bagi keluarga dan
masyarakat.
Tetapi krisis yang semakin memburuk berdampak pada keluarga saya di
Indonesia dan jutaan rakyat miskin, dimana kami dihadapkan tiap harinya
dengan kenyataan pengangguran, kurangnya kesempatan pendidikan, lemahnya
pelayanan sosial, kehilangan tanah dan kemiskinan yang semakin
mendalam.
Seperti yang dialami banyak orang, kami tidak punya pilihan selain
bekerja di luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Supaya saya bisa
memberi makanan, membayar utang orang tua dan memasukkan saudara saya ke
sekolah.
Namun realitas migrasi berbicara sebaliknya. Bagi sebgaian besar dari
kami, janji masa depan yang lebih baik adalah dusta. Kami terjebak dalam
jeratan hutang, diperdagangkan atau dijebak dalam perbudakan, hak-hak
dasar kami diingkari, rentan akan kekerasan, banyak yang hilang bahkan
mati.
Impian kami telah berubah menjadi mimpi buruk. Mimpi buruk yang
disebabkan oleh sebuah sistem yang menciptakan profit bagi mereka yang
berbisnis migrasi dan memperbolehkan perusahaan-perusahaan terus
memangkas upah.
Kami berharap adanya perlindungan dan pelayanan, tetapi kami justru
dibiarkan sendiri menghadapi penderitaan. Kami sendirian di dalam sebuah
sistem yang tidak menghargai hak dan martabat migran, tidak mengakui
kami sebagai pekerja dan manusia– tapi hanya tenaga kerja murah atau
barang dagangan.
Kerentanan kami dieksploitasi. Namun kebijakan migrasi justru memperkuat
ketidakberadaan kami. Kami dianggap sebagai ancaman keamanan. Akan
tetapi, kami ditransformasi menjadi sebuah industri yang melahirkan
milyaran remitansi, yang oleh beberapa pihak dimanfaatkan sebagai
kesempatan pembangunan.
Dalam pengalaman kami, tidak peduli seberapa banyak kami berkorban,
migrasi tidak menjamin pembangunan yang memungkinkan kami untuk pulang
dengan kehidupan layak. Tidak peduli seberapa keras kami bekerja, kami
tidak pernah diakui sebagai pekerja dan manusia yang bermartabat dan
setara.
Apakah kami ingin menjadi rentan? Tidak. Kami ingin dilihat dan
didengar; tidak dimarjinalkan dan dikecualikan. Kami ingin ada
penghormatan pada kemanusiaan kami. Migran di berbagai belahan dunia
secara kolektif berjuang dan berorganisasi untuk membuat mimpi kami
menjadi kenyataan.
Saya berbicara di depan anda hari ini dengan pesan yang jelas. Jangan
bicara tentang kami tanpa kami. Kami punya jawaban dan kami telah
menyuarakannya. Dengarkan dan bicaralah dengan kami tentang migrasi,
pembangunan dan hak asasi manusia. Konvensi internasional yang didesain
untuk melindungi kami telah diratifikasi. Tetapi itu hanya sebatas di
atas kertas dan bukan dalam bentuk tindakan.
Anda minta kami mengirimkan uang tapi yang kami inginkan adalah supaya
Anda berkomitmen – untuk keadilan, untuk pembangunan yang tidak
menghancurkan keluarga kami dan untuk sebuah masa depan yang
mengandalkan kekuatan rakyatnya, bukan untuk melanjutkan ekspor dan
eksploitasi tenaga kerja kami.
Dalam dua tahun ke depan, Anda ditarget untuk mengesahkan kesepakatan
bernama global compact untuk kami. Bingkailah berdasarkan hak dan
pastikan pelaksanaannya akan mengurangi penggusuran atau migrasi paksa,
menyelesaikan konflik dan akar kemiskinan.
Mari bekerja untuk mewujudkan dunia tanpa kerentanan, ketidakamanan atau
tak dipandang. Sebagai rakyat, sebagai pekerja, sebagai perempuan,
sebagai migran – kami siap untuk mewujudkannya. Bekerjalah bersama kami.
Terima kasih. Sumber JJBMIBerikut Videonya: