Breaking News

Hasil Kerja jadi TKW di Taiwan, Rumah Ambles Terbawa Longsor

Bisa hidup nyaman dengan keluarga di kampung halaman, Kustiyah (36) warga Dusun Serang, Desa Ngasinan Kecamatan Kaliwiro, Wonosono memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan.

Hasil kerja keringat yang dapatkan selama bertahun-tahun untuk membangun ‘’kerajaan’’ Kustiyah harus kalah oleh kekuatan alam. Ibu dua anak tersebut tengah digelayuti kecemasan dan ketakutan. Intensitas hujan yang akhir-akhir ini begitu tinggi serta cenderung lama, memberi rasa waswas tanah bangunan rumahnya kembali mengalami longsor. “Rumah saya sudah hampir habis. Tinggal satu kamar, ruang tamu depan dan teras rumah. Hanya ini yang kami miliki sekarang, yang penting tidak kehujanan dan kepanasan,” ungkapnya kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dia menuturkan, rumah dengan ukuran 9×11 m2i tersebut dibangun hasil kerja keras sebagai TKI di Taiwan. Sedikit demi sedikit hasil dari penghasilan sebagai buruh migran beberapa tahun disisihkan untuk membangun rumah. ‘’Dua bulan ini, rumah saya retak retak pada dinding dan lantainya. Yang membuat kami takut, dinding mengalami retak sangat lebar, bisa dilewati orang,” imbuh dia.

Bantuan dari Pemerintah

Ibu dari Rivan Kurniawan (12) dan Sahadatul Qonita (3) itu menceritakan, kejadian retakretak sebetulnya sudah terjadi sejak akhir 2016 lalu. Namun, karena hujan terus menerus turun, rekahan pada lantai semakin lebar.

Bahkan, saat mereka tidur, acap kali terdengar bunyi pletok-pletok seperti keramik pecah dan tembok patah. “Memang dulu sebelum longsor, ada bunyi seperti pletok-pletok. Tentu membuat keluarga saya ketakutan dan lari ke luar rumah,” kilasnya.

Semakin lama, kerusakan bertambah parah. Akhirnya, suami Kustiyah, Sutarman (38) mencoba meminta bantuan warga dalam perkumpulan Yasinan agar bekerja bakti membantu membongkar rumah miliknya yang retak sangat lebar. Mereka khawatir, jika tidak dilakukan pembongkaran, bangunan rumah yang masih kuat dengan pengait rangka besi bakal menarik seluruh rumah miliknya. “Kalau tidak dibongkar, bisa-bisa semua hancur tertarik tanah yang longsor,” jelas dia.

Menurut dia, saat dilakukan pembongkaran, khususnya saat memutus rangka besi fondasi, seluruh bangunan seketika hancur tertarik tanah longsoran. Beruntung barang-barang yang ada di dalam rumah telah diamankan sebelumnya. Atas kondisi kerusakan pada rumahnya, Kustiyah mengaku mengalami kerugian sangat besar hingga mencapai Rp 150 jutaan. “Tetapi sayangnya kami belum mendapatkan sentuhan bantuan dari pemerintah, baru sembako saja,” ujarnya. (M Abdul Rohman-26)
Comments